Archive | August, 2011

Gluten Free, Casein Free (GFCF) Diet

6 Aug

Diet gluten-free adalah kondisi diet dimana gluten (jenis protein dalam serealia) dihilangkan dari menu makanan. Jadi, makanan dan minuman yang mengandung gandum, barley, rye atau turunannya yang masih mengandung protein gluten. Selain diet gluten-free, penderita autis juga disarankan untuk melakukan diet casein-free. Casein adalah protein yang terkandung dalam susu. Dengan adanya diet casein-free, semua makanan atau minuman yang mengandung susu tidak diperbolehkan ada dalam menu makanan penderita autisme.

Mengapa anak autis diharuskan diet gluten dan casein? Belum ada penelitian yang akurat menggambarkan penyebab kenapa penderita autis harus diet gluten dan casein. Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, penelitian yang ada hanya membandingkan antara anak autis yang diet gluten dan casein dengan anak autis yang tidak diet gluten dan casein. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak autis yang melakukan diet gluten dan casein dalam makanannya memiliki kelakuan yang lebih baik dan terkontrol.

Ada teori yang menyebutkan bahwa penderita autis memiliki saluran pencernaan yang lebih sulit mencerna protein besar seperti gluten dan casein. Sehingga dengan adanya ketidakberesan dalam saluran pencernaan penderita autis, akan berefek pula pada tingkah laku mereka.

Teori lain mengatakan bahwa konsumsi gluten dan casein pada penderita autis akan menghasilkan  produk sampingan berupa protein yang disebut  dengan gluteomorphines dan casomorphines. Gluteomorphine yang juga dikenal dengan gliadorphin merupakan peptida opioid yang dibentuk selama proses pencernaan gliadin yang merupakan komponen dari protein gluten. Sedangkan casomorphine adalah peptida opioid yang merupakan produk samping pemecahan protein casein.

Dhawan et al. (1996) menjelaskan bahwa opioid adalah zat kimia yang bekerja dengan cara berikatan dengan reseptor opioid. Reseptor opioid dapat ditemukan pada sistem saraf pusat dan peripheral serta pada saluran pencernaan. Pada penderita autis, saluran pencernaan mereka memiliki kelainan sehingga gluteomorphin dan casomorphin yang dihasilkan dari pemecahan gluten dan casein di dalam usus akan berikatan dengan reseptor opioid di dalam usus. Alhasil, gluteomorphine dan casomorphine akan dibawa darah ke otak dan mengganggu fungsi otak.

Ada penelitian yang membandingkan urin penderita autis dengan orang normal. Keduanya mengonsumsi gluten. Ternyata pada urin penderita autis tidak ditemukan adanya gluteomorphin, sedangkan pada urin orang normal ditemukan gluteomorphin. Hal inilah yang mendasari bahwa gluteomorphin adalah penyebab kenapa penderita autis “kumat” jika mengonsumsi gluten.

Gluteomorphines dan casomorphines ini akan mempengaruhi tingkah laku penderita autis seperti mengurangi keinginan untuk melakukan interaksi sosial, menghambat pengiriman pesan akan rasa sakit ke otak, dan meningkatkan kebingungan. Dengan diet gluten dan casein, maka akan mengurangi kadar gluteomorphines dan casomorphines, sehingga penderita autis akan mengalami perbaikan tingkah laku.

Referensi:

Dhawan BN, Cesselin F, Raghubir R, Reisine T, Bradley PB, Portoghese PS, Hamon M (December 1996). “International Union of Pharmacology. XII. Classification of opioid receptors”. Pharmacol. Rev. 48 (4): 567–92.

http://www.greatplainslaboratory.com/autism.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Casomorphin

http://en.wikipedia.org/wiki/Gliadorphin