Gluten Free, Casein Free (GFCF) Diet

6 Aug

Diet gluten-free adalah kondisi diet dimana gluten (jenis protein dalam serealia) dihilangkan dari menu makanan. Jadi, makanan dan minuman yang mengandung gandum, barley, rye atau turunannya yang masih mengandung protein gluten. Selain diet gluten-free, penderita autis juga disarankan untuk melakukan diet casein-free. Casein adalah protein yang terkandung dalam susu. Dengan adanya diet casein-free, semua makanan atau minuman yang mengandung susu tidak diperbolehkan ada dalam menu makanan penderita autisme.

Mengapa anak autis diharuskan diet gluten dan casein? Belum ada penelitian yang akurat menggambarkan penyebab kenapa penderita autis harus diet gluten dan casein. Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, penelitian yang ada hanya membandingkan antara anak autis yang diet gluten dan casein dengan anak autis yang tidak diet gluten dan casein. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak autis yang melakukan diet gluten dan casein dalam makanannya memiliki kelakuan yang lebih baik dan terkontrol.

Ada teori yang menyebutkan bahwa penderita autis memiliki saluran pencernaan yang lebih sulit mencerna protein besar seperti gluten dan casein. Sehingga dengan adanya ketidakberesan dalam saluran pencernaan penderita autis, akan berefek pula pada tingkah laku mereka.

Teori lain mengatakan bahwa konsumsi gluten dan casein pada penderita autis akan menghasilkan  produk sampingan berupa protein yang disebut  dengan gluteomorphines dan casomorphines. Gluteomorphine yang juga dikenal dengan gliadorphin merupakan peptida opioid yang dibentuk selama proses pencernaan gliadin yang merupakan komponen dari protein gluten. Sedangkan casomorphine adalah peptida opioid yang merupakan produk samping pemecahan protein casein.

Dhawan et al. (1996) menjelaskan bahwa opioid adalah zat kimia yang bekerja dengan cara berikatan dengan reseptor opioid. Reseptor opioid dapat ditemukan pada sistem saraf pusat dan peripheral serta pada saluran pencernaan. Pada penderita autis, saluran pencernaan mereka memiliki kelainan sehingga gluteomorphin dan casomorphin yang dihasilkan dari pemecahan gluten dan casein di dalam usus akan berikatan dengan reseptor opioid di dalam usus. Alhasil, gluteomorphine dan casomorphine akan dibawa darah ke otak dan mengganggu fungsi otak.

Ada penelitian yang membandingkan urin penderita autis dengan orang normal. Keduanya mengonsumsi gluten. Ternyata pada urin penderita autis tidak ditemukan adanya gluteomorphin, sedangkan pada urin orang normal ditemukan gluteomorphin. Hal inilah yang mendasari bahwa gluteomorphin adalah penyebab kenapa penderita autis “kumat” jika mengonsumsi gluten.

Gluteomorphines dan casomorphines ini akan mempengaruhi tingkah laku penderita autis seperti mengurangi keinginan untuk melakukan interaksi sosial, menghambat pengiriman pesan akan rasa sakit ke otak, dan meningkatkan kebingungan. Dengan diet gluten dan casein, maka akan mengurangi kadar gluteomorphines dan casomorphines, sehingga penderita autis akan mengalami perbaikan tingkah laku.

Referensi:

Dhawan BN, Cesselin F, Raghubir R, Reisine T, Bradley PB, Portoghese PS, Hamon M (December 1996). “International Union of Pharmacology. XII. Classification of opioid receptors”. Pharmacol. Rev. 48 (4): 567–92.

http://www.greatplainslaboratory.com/autism.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Casomorphin

http://en.wikipedia.org/wiki/Gliadorphin

Advertisements

Teh Celup, Si Kantong Putih Penuh Kontroversi

26 Mar

Teh celup tidak hanya enak, tetapi juga praktis. Namun, kantong teh celup yang terbuat dari kertas masih menuai kontroversi hingga sekarang.

Kantong teh pada umumnya berwarna putih yang berisi daun teh untuk dicelup. Kantong teh berfungsi untuk mempermudah proses penyeduhan dan pembuangan daun teh. Fungsinya hampir sama dengan teh infuser. Beberapa kantong teh memiliki tali terpasang dengan kertas label yang membantu proses penyeduhan serta berfungsi untuk mengidentifikasi berbagai merk teh. Oleh sebab itu, penemuan teh celup merupakan suatu teknologi sederhana yang mempermudah para konsumen untuk menikmati teh dengan lebih praktis. Hanya dicelup selama beberapa menit. Kemudian kantong teh diangkat dan dibuang. Bayangkan, jika kita minum teh tubruk. Kita masih harus menyaring daun teh dan membuangnya. Jauh dari kata praktis!

Kertas kantong teh dibuat dengan campuran serat kayu dan sayuran(pulp). Pulp ini akan mengalami proses bleaching sehingga warna menjadi putih. Kantong teh umumnya dilengkapi dengan plastik yang tahan panas seperti PVC atau polypropylene, sebagai komponen pada bagian dalam permukaan kantong teh.

Kita sering menyeduh teh dengan kantongnya agak lama. Karena semakin lama diseduh, warna teh akan semakin pekat dan tentu saja aromanya lebih keluar. Namun, semakin lama kantong teh dicelup, maka zat-zat kimia dalam kantong teh pasti akan bermigrasi ke dalam air teh. Apalagi dengan kondisi suhu tinggi yang makin mempercepat perpindahan ini. Kandungan zat klorin di kantong kertas teh celup akan larut. Apalagi jika Anda mencelupkan kantong teh lebih dari 3 – 5 menit.

Klorin atau chlorine, zat kimia yang lazim digunakan dalam industri kertas. Fungsinya, disinfektan kertas, hingga kertas bebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Selain itu, kertas dengan klorin memang tampak lebih bersih. Karena disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya. Tak jauh beda dari racun serangga. Banyak penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir cacat, mental terbelakang, dan kanker.

Inilah penyebab kenapa teh celup masih menjadi kontroversi sampai sekarang. Di balik kepraktisannya, ternyata kantong teh juga dapat menyebabkan migrasi komponen berbahaya ke dalam air teh yang akan kita konsumsi. Solusinya, jangan berlama-lama menyeduh teh (sekitar 2-3 menit saja) atau yang lebih aman, kita kembali mengonsumsi teh tubruk…

Styrofoam, Pro dan Kontra

8 Mar

Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styren ini menjadi pilihan bisnis pangan karena mampu mencegah kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya saat dipegang. Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan panas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang. Bentuknya yang ringan menjadikan styrofoam mudah dibawa. Makanan yang disimpan juga tetap segar dan utuh. Tidak hanya itu, alasan dipilihnya styrofoam sebagai bahan pembungkus makanan terlebih karena biaya pengemasannya yang murah.

Dalam industri, styrofoam sering digunakan sebagai bahan insulasi. Bahan ini memang bisa menahan suhu, sehingga benda didalamnya tetap dingin atau hangat. Karena bisa menahan suhu itulah, akhirnya banyak yang menggunakannya sebagai gelas minuman dan wadah makanan.

Tetapi, riset terkini membuktikan bahwa styrofoam diragukan keamanannya. Sebab, dalam bahan pembungkus makanan tersebut ditemukan kandungan dioctyl phthalate (DOP) yang menyimpan zat benzen, suatu larutan kimia yang sulit dilumat oleh sistem percernaan. Benzena ini juga tidak bisa dikeluarkan melalui feses (kotoran) atau urine (air kencing). Akibatnya, zat ini semakin lama semakin menumpuk dan terbalut lemak. Inilah yang bisa memicu munculnya penyakit kanker.

Benzena bisa menimbulkan masalah pada kelenjar tyroid, mengganggu sistem syaraf sehingga menyebabkan kelelahan, mempercepat detak jantung, sulit tidur, badan menjadi gemetaran, dan menjadi mudah gelisah. Pada beberapa kasus, benzena bahkan bisa mengakibatkan hilang kesadaran dan kematian. Saat benzena termakan, zat ini akan masuk ke sel-sel darah dan lama-kelamaan akan merusak sumsum tulang belakang. Akibatnya produksi sel darah merah berkurang dan timbullah penyakit anemia.

Efek lainnya, sistem imun akan berkurang sehingga kita mudah terinfeksi. Pada wanita, zat ini berakibat buruk terhadap siklus menstruasi dan mengancam kehamilan. Dan yang paling berbahaya, zat ini bisa menyebabkan kanker payudara dan kanker prostat.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju migrasi polistirena foam dapat digunakan untuk mengemas pangan pada rentang suhu yang bervariasi, tetapi jika digunakan untuk mengemas pangan pada suhu tinggi, memungkinkan monomer stirena dapat bermigrasi ke dalam pangan dan selanjutnya masuk ke dalam tubuh. Migrasi dipengaruhi oleh suhu, lama kontak, dan tipe pangan. Semakin tinggi suhu, lama kontak, dan kadar lemak suatu pangan, semakin besar migrasinya. berbahaya bagi kesehatan, yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan terjadinya migrasi dari monomer stirena ke dalam pangan yang dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan.

Styren, bahan dasar styrofoam, bersifat larut lemak dan alkohol. Karena itu, wadah dari jenis ini tidak cocok untuk tempat susu yang mengandung lemak tinggi. Begitu pun dengan kopi yang dicampur krim. Padahal, tidak sedikit restoran cepat saji yang menyuguhkan kopi panasnya dalam wadah ini.

Makanan yang mengandung vitamin A tinggi sebaiknya juga tidak dipanaskan di dalam wadah styrofoam, karena styrene yang ada di dalamnya dapat larut ke dalam makanan. Pemanasan akan memecahkan vitamin A menjadi toluene. Toluene inilah pelarut styren.

Pada Juli 2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa residu styrofoam dalam makanan sangat berbahaya. Residu itu dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada sistem endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam makanan. Bahkan, beberapa lembaga dunia seperti World Health Organization’ s International Agency for Research on Cancer dan EPA (Enviromental Protection Agency) telah nyata-nyata mengkategorikan styrofoam sebagai bahan carsinogen (bahan penyebab kanker)

Penelitian juga membuktikan, bahwa semakin panas suatu makanan, semakin cepat pula migrasi bahan kimia styrofoam ke dalam makanan. Padahal di restoran-restoran siap saji dan di tukang-tukang makanan di pinggir jalan, styrofoam digunakan untuk membungkus makanan yang baru masak. Malahan ada restoran cepat saji yang memanaskan lagi makanan yang telah terbungkus styrofoam di dalam microwave. Bayangkan, betapa banyaknya zat kimia yang pindah ke makanan kita dan akhirnya masuk ke dalam tubuh kita.

Saat makanan atau minuman ada dalam wadah styrofoam, bahan kimia yang terkandung dalam styrofoam akan berpindah ke makanan. Perpindahannya akan semakin cepat jika kadar lemak (fat) dalam suatu makanan atau minuman makin tinggi. Selain itu, makanan yang mengandung alkohol atau asam (seperti lemon tea) juga dapat mempercepat laju perpindahan.

Proses pembuatan styrofoam juga bisa mencemari lingkungan. Data EPA (Enviromental Protection Agency) di tahun 1986 menyebutkan, limbah berbahaya yang dihasilkan dari proses pembuatan styrofoam sangat  banyak. Hal itu menyebabkan EPA mengategorikan proses pembuatan styrofoam sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia. Selain itu, proses pembuatan styrofoam menimbulkan bau yang tak sedap-yang mengganggu pernapasan-dan melepaskan 57 zat berbahaya ke udara. CFC yang digunakan untuk pembuatan styrofoam, akan melepaskan klorin ke udara dan merusak lapisan ozon, lapisan yang selama ini melindungi bumi dari sinar ultraviolet cahaya matahari.

Selain berefek negatif bagi kesehatan, styrofoam juga tak ramah lingkungan. Karena tidak bisa diuraikan oleh alam, styrofoam akan menumpuk begitu saja dan mencemari lingkungan. Styrofoam yang terbawa ke laut, akan dapat merusak ekosistem dan biota laut. Limbah styrofoam merupakan sampah yang sangat sulit penanggulanganya, selain sampahnya yang memakan ruangan, juga styrene dan CFC nya yang membahayakan, dan tidak ada mikroorganisme yang dapat menguraikannya. Beberapa perusahaan memang mendaur ulang styrofoam. Namun sebenarnya, yang dilakukan hanya menghancurkan styrofoam lama, membentuknya menjadi styrofoam baru dan menggunakannya kembali menjadi wadah makanan dan minuman.

Penggunaan styrofoam telah menjadi pilihan yang populer dalam bisnis pangan. Sebenarnya, styrofoam tidak menjadi masalah apabila si pengguna memahami sifat kemasan ini. Kurangnya pengetahuan dan ketidakpedulian menyebabkan penggunaan styrofoam sebagai pengemas makanan atau minuman yang tidak tepat. Pada dasarnya, styrofoam memiliki keunggulan dibanding produk pengemas lainnya, yaitu bisa menahan suhu panas atau dingin makanan/minuman.

Ada baiknya, apabila styrofoam yang digunakan untuk mengemas makanan yang kontak langsung dengan wadahnya adalah styrofoam yang telah dilaminasi dengan plastik yang tahan panas (food grade). Jadi, penggunaan styrofoam tidak menjadi masalah apabila penggunaannya sesuai dengan ketentuan. Tentu saja, pengguna styrofoam harus dibekali pengetahuan yang baik dan memadai mengenai bahan pengemas ini.

Aspartam Vs Fenilketonuria

22 Feb

Pernahkah Anda membaca kalimat “produk ini mengandung aspartam sehingga tidak disarankan untuk penderita phenylketonuria”? Lantas, apa hubungannya antara aspartam dan penyakit phenylketonuria?

Aspartam merupakan pemanis sintetis non-karbohidrat, aspartyl-phenylalanine-1-methyl ester, atau merupakan bentuk metil ester dari dipeptida dua asam amino yaitu asam amino asam aspartat dan asam amino essensial fenilalanin. Aspartam dijual dengan nama dagang komersial seperti Equal, Nutrasweet dan Canderel dan telah digunakan di hampir 6.000 produk makanan dan minuman di seluruh dunia. Terutama digunakan di minuman soda dan permen. Belakangan aspartam mendapat penyelidikan lebih lanjut mengenai kemungkinan aspartam menyebabkan banyak efek negatif. Dan akhirnya, pangsa pasarnya mulai berkurang direbut oleh pemanis lain yaitu sukralosa.

Keistimewaan dari aspartam adalah pemanis buatan ini terdiri dari asam amino yang akan mengalami proses metabolisme di dalam tubuh, sama seperti proses metabolisme protein lain dalam tubuh. Artinya, aspartam akan dipecah menjadi komponen yang lebih kecil (asam amino), akan diproses lebih lanjut untuk membentuk protein tubuh atau dibuang dari tubuh. Intinya, aspartam tidak akan terakumulasi dalam tubuh.

Dalam keadaan normal, fenilalanin diubah menjadi tirosin dan dibuang dari tubuh. Gangguan dalam proses ini menyebabkan fenilalanin tertimbun dalam darah  dan dapat meracuni otak  serta menyebabkan keterbelakangan mental. Penyakit ini dinamakan phenylketonuria (PKU).

Phenylketonuria (PKU) adalah gangguan desakan autosomal genetis yang dikenali dengan kurangnya enzim phenylalanine hidroksilase (PAH). Enzim ini sangat penting dalam mengubah asam amino fenilalanin menjadi asam amino tirosin. Jika tubuh kekurangan PAH, fenilalanin akan menumpuk dan berubah menjadi phenylketones, yang bisa dideteksi dari urin Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menimbulkan masalah dalam perkembangan otak, menyebabkan fungsi mental menurun drastis dan serangan-serangan. Meski demikian, PKU merupakan salah satu dari sedikit penyakit genetis yang bisa dikendalikan melalui diet. Pasien yang diet rendah fenilalanin dan tinggi tirosin hampir dapat sembuh total. (sumber: wikipedia.com)

Jadi, sebelum menikmati produk makanan, cek labelnya. Ini hal sederhana yang krusial. Anda bisa mendapatkan banyak informasi mengenai makanan yang akan Anda konsumsi dari si label. Salah satunya, termasuk peringatan terhadap kandungan dalam produk yang dapat menyebabkan masalah bagi orang yang punya penyakit atau pantangan.

Coke dan Mentos

19 Feb

Pernah mendapat e-mail tentang dua orang Brazilian yang meninggal setelah makan Mentos sekaligus minum Coke? Ketika membaca e-mail ini saya merinding. Iseng, saya search di Google mengenai relasi antara dua produk ini. Berikut saya sertakan gambar eksperimen reaksi antara  Coke dan Mentos.

Ketika Mentos dimasukkan ke dalam soda, gelatin dan gum arabika dari permen ini melarut dan memecah tekanan permukaan. Hal ini akan mengganggu kestabilan air, sehingga usaha air untuk memperluas dan membentuk gelembung baru berkurang. Setiap permen Mentos memiliki ribuan pori-pori yang berfungsi sebagai tempat yang sempurna untuk karbondioksida dalam membentuk gelembung (nucleation sites). Begitu Mentos masuk ke dalam soda, gelembung akan memenuhi permukaan soda. Kemudian, permen ini akan tenggelam dengan cepat ke dasar, menyebabkan karbondioksida akan dilepaskan dari minuman Coke. Alhasil, terjadilah peningkatan tekanan cairan dan cairan akan keluar dari botol.

MythBusters, salah satu program favorit saya di Discovery Channel, juga menyebutkan bahwa kandungan kafein, potassium benzoate, aspartam dan gas CO2 yang terkandung dalam Diet Coke serta gelatin dan gum arabic yang terkandung dalam Mentos adalah penyebab terjadinya jet effect kalau kedua produk ini bercampur. Permukaan Mentos mint yang dipenuhi dengan banyak pori-pori kecil, sehingga mempermudah pembentukan gelembung CO2 dengan cepat dalam jumlah besar, dan bisa menyebabkan ledakan busa.

Berdasarkan hasil percobaan lagi padaPerrier carbonated water, Coca-Cola Classic, Sprite Zero dan Diet Coke, reaksi ledakan yang paling parah terjadi pada produk Diet Coke. Percobaan menggunakan flavored Mentos (rasa buah-buahan) dengan coating yang lebih halus diuji pada minuman berkarbonasi, reaksi yang terjadi lebih halus. Sementara pencampuran antara  Mentos standar dengan minnuman berkarbonasi menghasilkan reaksi yang lebih bertenaga (ledakan yang lebih eksplosif).

Jangan takut dulu…

Yang menyebabkan ledakan ini adalah lapisan Mentos yang keras. Ketika kita mengunyah Mentos, kita juga menghancurkan lapisan luar Mentos yang keras tersebut. Sehingga, Mentos tidak lagi berbahaya jika dikonsumsi bersama-sama dengan Coke. Namun, saya sarankan tetap untuk tidak mengonsumsi kedua produk ini bersamaan. Lebih baik mencegah daripada mengobati bukan?

Kue Keranjang

18 Feb

Kue keranjang yang disebut juga sebagai Nian Gao (年糕) atau dalam dialek Hokkian Tii Kwee (甜棵), mendapat nama dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang, adalah kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula, serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket. Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaan tahun baru Imlek.

Kue yang terbuat dari beras ketan dan gula ini dapat disimpan lama, bahkan dengan dijemur dapat menjadi keras seperti batu dan awet. Sebelum menjadi keras kue tersebut dapat disajikan langsung, akan tetapi setelah keras dapat diolah terlebih dahulu dengan digoreng menggunakan tepung dan telur ayam dan disajikan hangat-hangat. Dapat pula dijadikan bubur dengan dikukus (di-tjwee) kemudian ditambahkan bumbu-bumbu kesukaan.

Kue keranjang memiliki tekstur yang lengket sehingga sering dijadikan simbol perekat atau eratnya hubungan antaranggota keluarga.  Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. Oh iya, kue keranjang yang rasanya manis juga menandakan semoga kehidupan setahun berikutnya juga manis dan bahagia. Buat yang belum punya jodoh, makan kue keranjang juga menyimbolkan semoga cepat bertemu dengan pujaan hati dan lengket terus dengannya.

Lemak Sintetis, Ada Nggak Sih?

19 Nov

Kita telah mengenal pemanis buatan yang rendah kalori. Kemunculan pemanis buatan seakan menjadi solusi bagi penderita diabetes yang pantang gula. Mereka tetap bisa menikmati rasa manis yang aman dan tanpa kalori.

Bagaimana dengan lemak buatan yang tanpa lemak? Ada nggak ya? Jawabannya: ADA. Para ahli telah berhasil membuat produk semacam lemak, yaitu poliester sukrosa yang disebut sebagai Olestra.

Olestra berbentuk cair seperti minyak goreng. Sehingga sering diaplikasikan pada penggorengan potato chips yang tanpa lemak. Soal rasa? Hmm… Pastinya jelas berbeda dengan potato chips yang kaya lemak.

Produk ini dapat digunakan sebagai minyak goreng, tetapi karena tidak dapat diserap oleh usus, maka ia tidak akan memberikan baik lemak, kolesterol maupun kalori bagi tubuh.  Selain itu, telah ditemukan pula bahwa produk ini dapat mencegah penyerapan lemak oleh sistem pencernaan sehingga dapat pula berfungsi menurunkan kadar kolesterol dalam serum darah.

Namun, kemunculan olestra juga menimbulkan perdebatan di kalangan  para ahli. Hal ini disebabkan produk Olestra sering menyebabkan diare, kram perut dan gas.

Bayangkan saja, untuk penggorengan kripik kentang saja, minyak goreng yang diserap sampai sekitar 40%. Cukup banyak bukan? Sama kejadiannya dengan Olestra. Olestra yang diserap oleh kripik kentang juga sekitar 40%. Memang pengurangan lemak yang terjadi sangat signifikan, namun efek samping yang dihasilkan juga tidak kalah bahayanya (diare terus menerus).

Selain itu, Olestra ternyata juga menghambat penyerapan vitamin yang dibutuhkan tubuh seperti vitamin yang larut lemak yang ditemukan pada sayur dan buah. Untuk menanggulangi hal ini, dilakukan fortifikasi vitamin larut lemak pada Olestra.

Dewasa ini, produsen maupun konsumen menghindari produk yang bebas lemak karena meskipun dalam jumlah sedikit, lemak memberikan sifat sensori yang diinginkan (rasa enak). Apalagi ditilik dari kecenderungan masyarakat, untuk mengonsumsi makanan sehat namun tetap enak. Oleh sebab itu, penggunaan Olestra masih harus diteliti lebih lanjut terutama untuk menghilangkan efek sampingnya.